Personal Blogs - Blog Rankings blog search directory Internet blogs Internet Blogs
TopOfBlogs Ping your blog, website, or RSS feed for Free
» Please download Adobe Flash Player « before watching the streaming
Tampilkan postingan dengan label ARKEOLOGI. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label ARKEOLOGI. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 02 April 2011

ARKEOLOG INGGRIS TEMUKAN OTAK BERUSIA 2500 TAHUN DALAM KEADAAN SEMPURNA TANPA KERUSAKAN



HESLINGTON, INGGRIS -   Penemuan otak pada tengkorak berusia lebih dari 2.500 tahun di Heslington Timur, Inggris, mengejutkan dunia. Para ahli organ selama ini yakin, otak merupakan bagian tubuh yang paling cepat rusak dan menjadi cairan sesudah meninggal. Penyebabnya, tingginya kandungan lemak.

"Otak Heslington" itu diteliti tim Universitas Bradford, Inggris, sejak ditemukan tahun 2008. Sonia O'Connor, pimpinan peneliti, mengatakan, otak itu berasal dari tahun 673-482 sebelum Masehi, milik pria berusia 26-45 tahun yang mati digantung atau dipenggal kepalanya.

Tak ada tanda pengawetan seperti pada mumi. Diperkirakan, otak itu segera dikubur dalam tanah basah setelah kematian. Tanah basah membuat oksigen tak bisa masuk sehingga menghindari pembusukan. Kemungkinan lain, pemilik otak punya penyakit tertentu atau ada perubahan fisiologis tubuh yang memengaruhi otak, misalnya kelaparan sebelum mati.
Read more »

Kamis, 17 Maret 2011

MISTERI HARTA KARUN 8 TON EMAS BANGSA MAYA TERPECAHKAN




Harta karun emas yang berasal dari peradaban Maya di Amerika Selatan dipercaya tersimpan di sebuah danau wilayah Guatemala. Baru-baru ini, arkeolog asal Jerman mengklaim bahwa dirinya berhasil memecahkan kode dalam buku kuno berisi informasi penyimpanan harta karun yang dilengkapi dengan peta.

Arkeolog tersebut adalah Joachim Rittsteig, guru besar emeritus Dresden University. Rittsteig yang terlibat ekspedisi ke Danau Izabal Guatemala mengatakan bahwa halaman-halaman dalam buku tersebut berisi informasi spesifik tentang harta karun yang dimaksud.

Rittsteig mengatakan, "Halaman 52 berbicara tentang Atlan, ibu kota Maya, yang hancur oleh gempa bumi pada tanggal 30 Oktober 666 SM. Di kota ini, suku Maya menyimpan 2.156 emas batangan yang diklaim suku Maya sebagai miliknya."

Rittsteig yang telah mempelajari teks dalam buku itu selama 40 tahun mengatakan, "Dresden Codex menunjukkan adanya harta karun besar berupa emas murni seberat 8 ton." Koran Jerman Bild yang mensponsori ekspedisi ini akan mengirim reporter, fotografer, kamerawan, dan penyelam profesional ke Danau Izabal untuk menemukan emas itu. 



Posted by : kurtdickblog.blogspot.com
Read more »

ILMUWAN TEMUKAN FOSIL DINOSAURUS SAUROPODA DI ANGOLA




JOHANNESBURG - Bertahun-tahun dilanda perang, Angola ternyata menyimpan jejak prasejarah yang penting bagi ilmu pengetahuan. Untuk pertama kalinya, setelah masa damai, para ilmuwan menemukan fosil dinosaurus di barat daya Afrika itu.

Temuan tersebut dipublikasikan dalam sebuah makalah di jurnal Annals of the Brazilian Academy of Science. Dinosaurus tersebut adalah jenis sauropoda dengan leher panjang, pemakan tumbuh-tumbuhan alias herbivora, dan termasuk makhluk terbesar di dunia sepanjang masa.

Fosil tersebut ditemukan tim ilmuwan berbagai negara yang melakukan ekspedisi penggalian di sana. Hanya ditemukan tulang kaki bagian depan. Dari karakteristiknya, fosil tersebut diperkirakan berasal dari jenis dinosaurus yang belum diketahui atau spesies baru.

Para ilmuwan menamakannya Angolatitan adamastor. Angolatitan berarti raksasa dari Angola. Adamastor diambil dari sosok raksasa laut dalam mitos pelaut Portugis. Menurut para ahli, dinosaurus tersebut termasuk yang terbesar di antara jenis lainnya.

Dr Octavio Mateus dari Unversidade Nova de Lisboa Portugal menemukan Angolatitan adamastor pada tahun 2005. Pengangkatan dan penelitian sejak saat itu dimulai. Fosil dinosaurus ditemukan di lokasi yang pada 90 juta tahun yang lalu merupakan lautan. Di dekatnya, ditemukan fosil ikan dan gigi hiu. "Mungkin dulu dinosaurus ini terseret ke laut dan dicabik-cabik oleh hiu purba," demikian ilmuwan memperkirakan.

Temuan ini merupakan hasil ekspedisi paleontologi pertama sejak 1960-an. Angola merupakan salah satu negara dengan perang berkepanjangan. Perang pecah pada tahun 1960-an, diikuti perang saudara setelah memperoleh kemerdekaan dari Portugal pada tahun 1975. Perang berakhir pada 2002 setelah angkatan bersenjata berhasil menumpas pemimpin pemberontak Jonas Savimbi.

"Kami tidak takut ranjau, kami tidak takut dengan kondisi negara yang bermasalah di masa lalu ini," kata Dr Mateus.
 
 
 
Posted by : kurtdickblog.blogspot.com
Read more »

Senin, 14 Maret 2011

" HOT NEWS " ARKEOLOG AMERIKA MENGUAK KEBERADAAN BENUA ATLANTIS




CONNECTICUT - Tim peneliti Amerika Serikat kemungkinan bisa mengungkap kota yang hilang Atlantis, metropolis legendaris yang  dipercaya tenggelam oleh tsunami ribuan tahun. Kota itu kini ada di wilayah berlumpur di Spanyol selatan. 

"Ini adalah kekuatan dari tsunami," kata ketua peneliti Richard Freund kepada Reuters, Sabtu (12/3) lalu. Menurut Freund,  yang sulit dipercaya yakni wilayah kota hilang Atlantis itu kini berjarak 60 mil dari pantai. 

Freund, profesor dari Universitas Hartford, Connecticut, AS membeberkan, untuk memecahkan misteri keberadaan Atlantis itu,  tim menggunakan foto satelit dan menduga telah menemukan situs tersebut di wilayah utara Cardiz, Spanyol. Terkubur di bagian  rawa-rawa yang luas di kawasan Dona Ana Park, yang menunjukkan tanda-tanda keberadaan Atlantis. 

"Kami menemukan sesuatu yang tidak didapat oleh orang lain sebelumnya. Penemuan yang bisa dipercaya, terutama terutama untuk  arkeologi. Penemuan yang sangat masuk akal," kilah Freund. 

Filsuf Yunani Plato menulis tentang Atlantis sekitar 2.600 tahun yang lalu, menggambarkannya sebagai sebuah pulau yang  terletak di selat yang disebut Pilar Hercules sebagai Selat Gibraltar yang dikenal di zaman kuno. Menggunakan laporan lengkap Plato tentang Atlantis sebagai peta, pencarian difokuskan di kawasan  Mediterania. 

Sedangkan tsunami di wilayah tersebut telah didokumentasikan selama berabad-abad. Freund mengatakan. Salah satu yang terbesar  adalah gelombang pasang yang menerjang Lisabon, Portugal, pada bulan November 1755 silam.



Posted by : kurtdickblog.blogspot.com
Read more »

Minggu, 13 Maret 2011

ARKEOLOG CHINA TEMUKAN MUMI WANITA BERUSIA 700 TAHUN




Jiangsu - Sebuah mumi wanita dengan kondisi nyaris utuh ditemukan di Kota Taizhou, Provinsi Jiangsu Cina. Mumi yang diperkirakan berusia 700 tahun itu diduga berasal dari Dinasti Ming yang berkuasa pada tahun 1368-1644.

Arkeolog Cina terkejut dengan temuan mumi yang berbentuk sempurna itu. Saat ditemukan mumi berada dalam peti kayu yang terkubur beberapa meter di bawah sebuah jalan yang ramai di Taizhou, bagian timur Cina.

Mumi ditemukan oleh sekelompok pekerja yang sedang melakukan penggalian untuk membangun jalan. Mereka menemukan tiga peti mati, salah satunya berisi mumi.

Bentuk mumi masih sangat terjaga, dari kulitnya, rambut, bulu mata, juga wajahnya masih utuh. "Meski berumur ratusan tahun, tapi seperti baru saja mati," kata salah seorang arkeolog, Jumat (5/3).

Saat ditemukan para pekerja, tubuhnya terendam cairan berwarna cokelat, yang kemungkinan berfungsi menjaga keutuhan tubuhnya. Direktur museum lokal Wang Weiyin menjelaskan, teknologi pembuatan mumi hanya digunakan dalam pemakaman di kalangan kelas atas.

Pembuatan mumi yang alamiah bisa dilakukan jika jenazahnya cepat kering, misalnya di daerah gurun atau jika jenazah dipenuhi air tanpa oksigen, sehingga tidak ada degradasi bakteri.

Mumi perempuan yang memiliki tinggi 1,52 meter, memakai cincin di tangan kanannya. Di dalam petinya juga ditemukan tulang-tulang, keramik dan benda-benda antik lainnya. Identitasnya tidak diketahui, tetapi ia diduga berasal dari Dinasti Ming, yang dikenal dengan bangunan tembok Cina dan Kota Terlarang-nya. Diperkirakan wanita itu berasal dari keluarga kelas atas yang sejumlah muminya telah ditemukan selama 30 tahun terakhir ini.



Posted by : kurtdickblog.blogspot.com
Read more »

Selasa, 08 Maret 2011

FOSIL MANUSIA PRA SEJARAH PENGHUNI AWAL SUMATERA DITEMUKAN



SUMATERA SELATAN - Tiga di antara 18 individu manusia prasejarah hasil ekskavasi tim Puslitbang Arkenas di Gua Harimau itu sepertinya dikubur pada saat bersamaan dalam satu liang. Persis di bawah rangka utama, dua rangka individu lain terlihat saling bersentuhan dalam posisi bagai menyangga "sang majikan" yang dikubur di atas keduanya.

Posisi penguburan yang unik sekaligus menimbulkan tanda tanya. Mungkinkah dalam sistem penguburan pada masa itu, antara 3.500 dan 2.000 tahun lalu, manusia prasejarah di Nusantara telah mengenal strata sosial di mana apabila ada tokoh atau orang-orang tertentu meninggal, maka perlu ada tumbal yang harus ikut dikubur? Mungkinkah sudah ada kepercayaan kehidupan setelah mati di alam lain sehingga "sang majikan" tetap perlu dilayani pascakematiannya?

"Segala kemungkinan selalu ada, tetapi yang pasti seluruh rangka manusia dari Gua Harimau merupakan ras Mongoloid," kata Harry Widianto, ahli paleoantropologi yang juga adalah Kepala Balai Pelestarian Situs Manusia Purba Sangiran.

Harry begitu yakin temuan "kuburan" massal di Gua Harimau adalah sisa-sisa rangka manusia prasejarah dari ras Mongoloid. Keyakinan itu berangkat dari ciri-ciri morfologis rangka temuan, terutama dari bentuk tengkorak yang meninggi dan membundar (brachycephal), tulang tengkorak bagian belakang (occiptal) yang datar, morfologi gigi seri, bentuk orbit mata, kedalaman tulang hidung (nasal), serta dari postur tulang dan tubuh mereka yang khas Mongoloid.

"Ciri-ciri morfologisnya memang menunjukkan identitas mereka sebagai bagian dari ras Mongoloid," kata Harry.

Siklus kehidupan

 Individu-individu itu umumnya dikubur dengan orientasi timur (kepala) dan barat (kaki). Lewat penguburan semacam ini, patut diduga bahwa mereka sudah mengenal semacam filosofi tentang siklus kehidupan. Arah timur sebagai lokasi kepala adalah arah matahari terbit, sedangkan barat sebagai arah kaki adalah arah matahari tenggelam. Dalam konteks ini, penguburan dengan orientasi semacam itu mengacu pada asal mula (timur) dan akhir (barat) dari kehidupan.

Filosofi itu juga tecermin dari adanya penguburan terlipat, yang menggambarkan posisi bayi di dalam perut sebelum ia dilahirkan. Dengan mengubur secara terlipat diharapkan pada saat kematian yang bersangkutan telah dibebaskan dari segala belenggu duniawi dan dikembalikan pada kehidupan awal pada saat dia mati.

"Dengan demikian, posisi penguburan terlipat tersebut mengisyaratkan individu tersebut kembali suci pada saat dia meninggal," tutur Harry Widianto.

Melalui temuan ini, teori baru tentang alur migrasi manusia prasejarah pendukung budaya Austronesia ke Nusantara perlu dibangun kembali. Paling tidak, teori lama bahwa "pendudukan" Sumatera oleh ras Mongoloid dari daratan Asia melalui Taiwan-Filipina-Sulawesi—kemudian dalam perjalanan migrasi mereka selanjutnya ke Madagaskar melalui Kalimantan, Sumatera, dan Jawa (dikenal sebagai teori "Out of Taiwan")—bukanlah satu-satunya kebenaran.

Sebab, temuan-temuan rangka manusia berikut artefak tinggalan budaya mereka di kawasan perbukitan karst Padang Bindu, Sumatera Selatan—juga temuan semasa di Ulu Tijanko, Jambi—menunjukkan usia yang sama tuanya (sekitar 3.500 tahun) dengan budaya Austronesia di Sulawesi, misalnya. Tafsir baru yang dapat dimajukan adalah bahwa sejak awal persebaran ras Mongoloid tidak hanya terjadi di bagian tengah Nusantara (jalur Taiwan-Filipina-Sulawesi), tetapi juga di bagian barat melalui daratan Asia Tenggara ke Sumatera-Jawa.

"Sisa-sisa rangka manusia di Gua Harimau, juga di Pondok Selabe dan Gua Putri yang masih dalam satu kawasan, adalah bukti dari pergerakan ’jalur baru’ tersebut," kata Harry.

Patut diduga mereka inilah para penghuni awal Sumatera. Dalam tahap evolusi lebih lanjut, beribu-ribu tahun kemudian—setelah menanggalkan status sebagai "manusia gua" dengan hidup dan menetap di lembah dan dataran yang lebih luas—mereka pun membangun kebudayaan baru di daratan yang kini disebut sebagai Pulau Sumatera. Dan, Gua Harimau adalah salah satu lokasi kuburan para leluhur orang-orang Sumatera itu.




Posted by : kurtdickblog.blogspot.com
Read more »

FOSIL BANGAU RAKSASA DI TEMUKAN DI KEPULAUAN FLORES





JAKARTA - Menurut Zoological Journal of the Linnean Society, fosil bangau putih raksasa ditemukan di Pulau Flores. Peneliti mengatakan, penemuan fosil bangau ini penting untuk mempelajari evolusi manusia purba yang juga ditemukan di pulau ini, Homo floresiensis.

Bangau putih yang diberi nama Leptoptilos robustus itu memiliki tinggi 1,8 meter dan berat hingga 16 kilogram, membuatnya paling tinggi dan paling berat di antara spesies bangau lainnya.

Paleontolog Hanneke Meijer dari National Museum of Natural History di Leiden, Belanda, menemukan fosil ini bersama koleganya, Dr Rokus Due dari Pusat Penelitian Arkeologi Nasional di Jakarta. Mereka menemukan empat tulang kaki di Gua Liang Bua, Pulau Flores. Tulang-tulang ini diyakini merupakan bagian dari seekor bangau yang hidup antara 20.000 dan 50.000 tahun lalu.

"Saya menyadari tulang-tulang bangau raksasa ini pertama kali di Jakarta, saat mereka disandingkan dengan tulang-tulang yang lebih kecil lainnya. Menemukan burung besar adalah hal biasa di pulau itu. Tapi saya tidak menyangka menemukan bangau putih raksasa," kata Dr Meijer.

Tidak ada tulang sayap yang ditemukan. Para peneliti menyangka bangau ini jarang atau bahkan tidak pernah terbang. Ukuran dan berat tulang kaki serta ketebalan dinding tulang menunjukkan bangau ini sangat berat sehingga menghabiskan sebagian besar hidupnya di darat.


Spesies Pulau Flores
Penemuan spesies raksasa bukan hal baru di Pulau Flores. Para peneliti telah menemukan makhluk-makhluk kerdil, seperti gajah kerdil Stedgodon florensis insularis dan komodo Varanus komodoensis. Di pulau ini pula para ilmuwan menemukan fosil manusia kerdil, Homo floresiensis, yang hanya memiliki tinggi satu meter.

Fenomena perubahan ukuran ini dikenal sebagai faktor pulau dan dipicu beberapa predator yang ada di pulau tersebut. Akibatnya, hewan-hewan yang menjadi mangsa makin kecil, sedangkan hewan predator semakin besar. "Mamalia yang besar seperti gajah dan primata menunjukkan penurunan ukuran. Sementara itu, mamalia kecil seperti hewan pengerat dan burung ukurannya membesar," urai Dr Meijer.

Adapun Homo floresiensis ditemukan pada tahun 2004. Sampai saat ini, para peneliti masih memperdebatkan status Homo floresiensis. Ilmuwan masih mempertanyakan apakah manusia kerdil yang hidup 12.000 hingga 8.000 tahun yang lalu itu termasuk Homo erectus atau Homo sapiens.

"Status Homo floresiensis menjadi bahan perdebatan semenjak ditemukan. Menurut saya, bangau putih raksasa ini penting untuk memahamai evolusi Homo floresiensis. Ada spekulasi kalau bangau putih raksasa ini memakan Homo floresiensis. Meski tidak ada bukti, kemungkinannya tidak bisa dikesampingkan," cetus Dr Meijer.

Hingga kini belum jelas mengapa bangau raksasa, gajah kate, dan manusia purba itu punah. "Tapi, kami memiliki beberapa petunjuk. Semua tulang bangau putih raksasa seperti juga gajah kate dan manusia kerdil ditemukan di bawah lapisan tebal debu vulkanik. Kemungkinan ada erupsi gunung api. Kedua, bangau putih raksasa dan makhluk sezamannya punah sebelum manusia modern muncul di gua itu," pungkas Dr Meijer.
Read more »

Jumat, 18 Februari 2011

ARKEOLOG AUSTRALIA MENEMUKAN PAHATAN PURBA DINDING GOA DI TIMOR LESTE





Ilmuwan Australia menemukan pahatan dari masa prasejarah di dinding goa ketika sedang berburu fosil tikus raksasa di Goa Lene Hara, Timor Leste. Para ilmuwan memperkirakan pahatan itu berasal dari masa Pleistocene, lebih kurang 12.000 tahun yang lalu.

Pahatan menggambarkan wajah-wajah manusia prasejarah, salah satunya dengan hiasan kepala unik yang merepresentasikan matahari. Pahatan jenis tersebut merupakan pertama dan satu-satunya di Timor Leste yang berasal dari masa Pleistocene.

Ken Aplin dari Australia Commonwealth Scientific and Research Organization (Csiro) yang terlibat misi tersebut mengatakan bahwa ia menemukan pahatan tersebut secara tak sengaja. Saat melihat ke atas, senter di kepalanya tiba-tiba menyinari pahatan itu.

"Melihat ke atas dari lantai goa, senter kepala saya menyinari sesuatu yang tampak seperti pahatan. Saya melihat sekeliling dengan senter kepala saya dan melihat seluruh panel ukiran wajah manusia prasejarah pada dinding gua," katanya.

Aplin mengatakan, "Penduduk lokal yang bekerja dengan kami terpesona dengan penemuan tersebut. Mereka mengatakan bahwa wajah-wajah itu telah memilih hari tersebut untuk menampakkan diri sebab mereka bangga dengan apa yang kita lakukan."

Bentuk seni goa lain juga ditemukan dan diperkirakan berusia 30.000 tahun. Tahun lalu, pihak Csiro mengatakan bahwa mereka telah menemukan spesies tikus raksasa purba yang diklaim memiliki ukuran sebesar anjing kecil.




Posted by : kurtdickblog.blogspot.com
Read more »

Selasa, 15 Februari 2011

JANGKRIK BERKAKI LEBAR BERUSIA 100 JUTA TAHUN DI TEMUKAN ARKEOLOG



BRAZIL - Para peneliti berhasil menemukan fosil serangga purba yang berusia 100 juta tahun di wilayah utara Brazil. Fosil tersebut merupakan nenek moyang dari Schizodactylidae, serangga serupa jangkrik berkaki lebar yang kini masih ditemukan di wilayah Asia Selatan, Indochina bagian utara, dan Afrika.
 
Penemuan fosil ini dipublikasikan di jurnal online ZooKeys yang bisa bebas diakses. Meski karakteristik fosil berbeda dengan Schizodactylidae yang hidup saat ini, namun karakteristik umumnya hampir sama. Kesamaan tersebut membuktikan bahwa Schizodactylidae mengalami evolusi statis selama jutaan tahun.

Evolusi statis adalah peristiwa di mana kelompok organisme tertentu hanya mengalami sedikit perubahan genetik dalam rentang waktu geologi yang cukup lama. Sam Heads, ahli serangga dari Universitas Illinois yang terlibat riset ini mengatakan, Schizodactylidae mengalami evolusi statis sejak periode awal zaman Cretaceous, 100 juta tahun lalu.

Studi lain juga menunjukkan bahwa lingkungan tempat moyang serangga serupa jangkrik ini tinggal adalah kering atau kering musiman. Heads mengatakan, "Hal ini menunjukkan, pemilihan habitat dari Schizodactylus, genus dari moyang hewan serupa jangkrik, ini tidak berubah selama 100 juta tahun juga.

Mendeskripsikan Schizodactylidae, Heads mengatakan, "Ini adalah jangkrik berkaki lebar dan kelompok serangga besar yang memiliki kekerabatan dengan jangkrik yang sehari-hari kita kenal." Heads mengatakan, Schizodactylidae mendapatkan namanya dari struktur kaki serupa dayung yang membantunya bergerak di pasir dan mencari mangsa.




Posted by : kurtdickblog.blogspot.com
Read more »

Senin, 14 Februari 2011

PENEMUAN MUMI KUCING BERUSIA 400 TAHUN




Mei 2009, Richard Parson, seorang direktur perusahaan pemakaman sedang merenovasi sebuah rumah yang dimilikinya di wilayah Ugborough dekat Plymouth. Ketika para pekerja sedang membongkar dinding kamar mandi lantai atas, mereka menemukan sebuah mummi, mummi seekor kucing dalam kondisi utuh.

Mr. Parson mengatakan bahwa seorang tetangga pernah mengatakan kepadanya bahwa mummi itu pernah ditemukan 20 tahun yang lalu oleh penghuni rumah sebelumnya. Namun ditaruh kembali olehnya. Kucing yang ditemukan masih memiliki bentuk yang baik dengan cakar dan gigi. Diperkirakan usianya telah mencapai 400 tahun. Kemungkinan ditaruh di dinding untuk mengusir roh jahat, sesuai kepercayaan jaman dulu.

"Kelihatannya mengerikan dan kucing itu lebih besar daripada kucing pada umumnya." Kata Parson. "Aku tidak bisa membuangnya, jadi kami merencanakan untuk menaruhnya kembali ke dalam dinding. Tapi istriku segera menolaknya. Ia kuatir akan mengalami mimpi buruk."

Parson menambahkan :"Kelihatannya 400 tahun yang lalu, masyarakat menaruh mayat kucing untuk mengusir para penyihir. Sebenarnya sejak lama beredar isu atau sebuah legenda bahwa ada seekor kucing yang dikubur di dalam rumah. Namun tidak ada seorang pun yang tahu kebenarannya"

"Aku bukan orang yang percaya tahayul, namun kucing itu sepertinya bagian dari sejarah desa dan paling tidak menambah daya tarik tersendiri terhadap rumah itu."

Marion Gibson, seorang penyihir dan ahli legenda kuno dari Universitas Exeter berkata :"Kucing kadang ditaruh di dinding sebagai jimat keberuntungan. Kelihatannya hal itu merupakan praktek umum bagi masyarakat Eropa. Hal itu dilakukan untuk mengusir para penyihir, roh jahat, nasib buruk dan semua hal yang bisa terlihat sebagai ancaman bagi rumah"
 
 
 
 
Posted by : kurtdickblog.blogspot.com

Read more »

Kamis, 10 Februari 2011

BADAI PENYEBAB KEMATIAN MASSAL DINOSAURUS

 
 
 
Ilmuwan mengungkap penemuan kuburan dinosaurus yang mungkin terbesar di dunia. Ribuan tulang fosil 76 juta tahun itu terletak di wilayah setidaknya 568 hektar.

Dinosaurus mati secara massal diperkirakan akibat badai raksasa yang setara dengan angin topan saat ini yang melanda wilayah pesisir.

Temuan itu bisa membantu memecahkan misteri tentang mengapa tanah tandus Kanada barat begitu kaya fosil dinosaurus.

Ribuan tulang fosil 76 juta tahun itu terletak di wilayah setidaknya seluas 568 hektar (2,3 km persegi). Kerangka itu milik dinosaurus bertanduk sapi berukuran kasar, pemakan tumbuhan dikenal sebagai Centrosaurus.

Harta karun ini menyediakan bukti kuat pertama bahwa beberapa tanduk lembu dinosaurus jauh lebih besar dari yang diduga sebelumnya, kata ilmuwan peneliti senior David Eberth, seorang ahli paleontologi dan ahli geologi di Museum Royal Tyrrell di Alberta.

Tumpukan tulang itu terletak di utara dekat Hilda Alberta Kanada, tepat di perbatasan dengan Saskatchewan.

Kuburan itu sebenarnya ditemukan pada 1997, tetapi konfirmasi ukuran penemuan itu secara rinci muncul dalam buku "Perspektif Baru Dinosaurus Bertanduk " (Indiana University Press, 2010) yang rilis bulan lalu.

Kekayaan fosil Alberta sangat luar biasa, seperti dinosaurus bertanduk termasuk Triceratops, ankylosaurs, elang yang berkaitan dengan Velociraptor dan tyrannosaurids seperti Albertosaurus dan Tyrannosaurus rex.

Kawasan itu rumah bagi keragaman yang luar biasa dari hewan lain juga, termasuk burung, pterosaurus, buaya, penyu, kadal dan mamalia. Para ilmuwan baru-baru ini menemukan tanda gigi mamalia pada tulang dinosaurus di Alberta.
 
 
 
Posted by : kurtdickblog.blogspot.com
Read more »

FOSIL ULAR BERKAKI BERUSIA 95 JUTA TAHUN DI TEMUKAN DI LIBANON




Dari penelitian terbaru terhadap fosil ular yang diperkirakan telah berusia 95 juta tahun, terungkap bahwa ada dua tulang kaki kecil yang tersambung ke tulang pinggul hewan tersebut.
Seperti dikutip dari LiveScience, 10 Februari 2011, fosil yang ditemukan di Libanon tersebut berasal dari zaman di mana ular belum kehilangan tungkai belakang mereka.
Rekonstruksi tiga dimensi terhadap tulang tersebut akan segera dilakukan untuk membantu para peneliti memahami bagaimana ular berevolusi hingga kehilangan kakinya itu.
Adapun perdebatan yang menghangat di kalangan paleontologist adalah apakah nenek moyang ular berkaki itu merupakan kadal yang berenang di air atau kadal yang melata di darat.
“Sebuah tulang kaki berukuran panjang satu inci (sekitar 2,5 centimeter) terlihat pada fosil ular Libanon. Sayangnya, separuh bagian panggul ular itu terkubur di dalam batu,” kata Alexandra Houssaye, peneliti dari Museum National d’Histoire Naturelle, Paris, Perancis.
Ular yang panjangnya 19 inci (sekitar 50 centimeter) ini merupakan Eupodophis descouensi, yang merupakan satu dari tiga fosil ular yang pernah ditemukan memiliki kaki. “Membongkar batu untuk menemukan satu kaki lagi tidaklah dimungkinkan,” ucapnya.
Untuk itu, peneliti akan menggunakan teknik yang disebut sebagai synchrotron-radiation computed laminography (SRCL). Serupa dengan pemindaian medis CT scan, SRCL menggunakan sinar X untuk menggambarkan struktur internal dari sebuah objek, namun dengan resolusi 1.000 kali lebih tinggi.
Dari pemindaian, terlihat kaki yang tersembunyi di dalam batu itu bertekuk di bagian lutut. Akan tetapi, kaki itu tidak memiliki telapak dan tulang jari.
“Struktur tulang kaki yang tersimpan rapi di dalam batu ini serupa dengan struktur tulang milik kadal darat,” kata Houssaye. “Meski demikian, satu penelitian saja tidak akan bisa memastikan apakah ular ini punya nenek moyang hewan air atau hewan darat,” ucapnya.
Meski demikian, Houssaye menyebutkan, anatomi tulang milik ular itu menunjukkan bahwa evolusi telah menghilangkan kaki milik ular bukan dengan mengubah cara tulang itu tumbuh. “Kemungkinan, kaki itu tumbuh melambat atau semakin pendek,” ucapnya.
Eksperimen tersebut, menurut Houssaye, merupakan eksperimen pertama yang menggunakan teknik SRCL di dunia paleontology, dan masih banyak yang perlu dianalisa. “Langkah selanjutnya adalah menganalisa fosil tulang belakang ular lainnya, mengamati tungkai ular dan kadal hidup dan menganalisa fosil ular tertua yang pernah ditemukan,” ucapnya.


Posted by : kurtdickblog.blogspot.com
Read more »

Rabu, 19 Januari 2011

ARKELOG MENEMUKAN DINOSAURUS SEBESAR ANJING




Para peneliti  menemukan tengkorak baru  dinosaurus yang mempunyai ukuran tubuh sama dengan anjing. Umurnya, seperti dikutip dari USA Today, diperkirakan  berasal dari permulaan era dinosaurus 230 juta tahun yang lalu. Kerangka itu mengungkap beberapa tanda pertama dari predator menakutkan.


Eodromaeus (diucapkan ii-o-DRO-mus) murphi kecil atau "si pelari pagi" memiliki bobot hanya 10 (4,5 kg) hingga 15 (6.8 kg) pounds dan memiliki panjang empat kaki (1.2 Meter) dari ujung moncong hingga ekor.



Dinosaurus itu ditemukan di sebuah situs  yang ditemukan di pengunungan Andes, Argentina tahun 1996.



Ischigualasto,sebuah lembah gersang yang mereka gali merupakan sumber yang kaya akan fosil dari awal kehidupan dinosaurus.



Di sana pula mereka pertama kali menemukan eoraptor,(i-oh-RAP-tor)  di tahun 1991, yang oleh beberapa pihak diyakini sebagai leluhur dari semua dinosaurus.



Mahluk yang baru ditemukan itu, yang berlari menggunakan dua kaki dan memakan baik tumbuhan dan binatang itu, agak mengguncangkan pohon keluarga awal dinosaurus.



Ketika pertama kali ditemukan dalam tengkorak fosil, para peneliti dari Argentina dan AS mengira tulang-tulang itu merupakan eoraptor.



"Tetapi saya mulai mengukurnya di laboratorium saya dan saya menyadari ini bukan lagi eoraptor," ujar Paul Sereno dari universitas Chicago, salah seorang penulis temuan itu yang dimuat pada jurnal Science.



Tulang yang mereka temukan justru merupakan dinosaurus kecil yang berbeda yaitu karnivora dengan "gigi tajam seperti pisau steak unutk merobek daging," yang juga bisa berlari sekitar 32 kilometer meter per jam.



Mereka mempunyai jari yang mencengkaram dan panjang, "Cakar yang terlihat seram" itu bisa untuk membabat dan menggaruk.



"Mereka seperti rakun reptil," kata Thomas Holtz, paleontolog di University Of Maryland in College park.



Eodromaeus pada 230 juta tahun yang lalu,berasal dari zaman dinosaurus paling awal, periode  yang para ilmuwan cuma sedikit tahu. Tetapi, meski ada di awal zaman itu, eodromaeus punya ciri-ciri khusus yang terkait dengan dinosaurus.



"Ini merupakan  blueprint awal dinosaurus," kata Sereno. Beberapa fitur pada eodromaeus - seperti tangan yang mencengkram - ada 150 juta tahun kemudian pada tyrannosaurus rex, tepat sebelum asteroid menghantam bumi," ujarnya. Hantaman asteroid itu berarti kepunahan massal pada 65 juta tahun lalu.



Bagi para pakar dinosaurus, "jaw dropper" sesungguhnya merupakan perbandingan antara eodromaeus dan kerabat kecilnya, eoraptor,  spesies yang dinamai oleh Sereno dan koleganya ditahun 1993.



Waktu itu, eoraptor ditandai sebagai predator kecil yaitu  theropoda seperti eodromaeus. Kelompok ini termasuk velociraptor, tyrannosaurus dan giganotosaurus. satu segmen tampaknya  masuk dalam jenis burung.



Setelah rinciannya jelas serta ada CT scan dari kepala dan tengkoraknya, fitur baru itu mengungkapkan bahwa hubungan eoraptor justru terkait dengan herbivora berleher raksasa yang disebut sauropodomorphs, yang familiar di banyak orang, termasuk "brontosaurus".



Temuan baru itu membuat jelas bahwa eodromaeus menjelajah planet ini lebih awal dari eoraptor.



Penemuan itu sungguh "menyingkirkan eoraptor (dinosaurus) yang telah lama berada di posisi itu," ujar Holtz. (Aef/At/Fr)






Posted by : kurtdickblog.blogspot.com
Read more »

Kamis, 13 Januari 2011

PENEMUAN MAKAM DIPIRAMIDA KUNO MEKSIKO




Sejumlah arkeolog mengatakan mereka telah menemukan kuburan di dalam piramida kuno di Chipas, Meksiko selatan.

Mereka mengatakan umur pusara kemungkinan 2.700 tahun sehingga menjadikannya sebagai kuburan tertua di dalam piramida Mesoamerika.

Arkeolog menemukan kerangka empat manusia, salah satunya adalah kerangka laki-laki yang dikelilingi permata jade dan kekuning-kuningan.

Mereka meyakini pria itu kemungkinan seorang pendeta senior atau pemimpin Chiapa de Corzo, sebuah pemukiman ternama pada masa itu.

Tim arkeolog dari Universitas Brigham Young, Amerika, Institut Sejarah dan Antropologi Nasional Meksiko, dan Universitas Otonom Nasional Meksiko mengatakan penemuan ini menunjukkan bahwa penggunaan piramida sebagai pusara telah dilakukan jauh hari dari perkiraan dan kemungkinan sudah ada sejak kebudayaan Maya.

"Seratus tahun sebelum ada pusara di dalam piramida sebagai makam keluarga kerajaan di kawasan Maya, masyarakat di Chiapa de Corzo sudah menguburkan kalangan elit di dalam piramida. Tahun yang kami maksud sekitar 700 sebelum Masehi," kata tim arkeolog.

Korban manusia?

Pusara terletak di dalam piramida yang diperkirakan setinggi 6-7 meter ketika kali pertama dibangun dan dilengkapi dengan tangga terbuat dari tanah menuju ke kuil di atas struktur bangunan.

Para peneliti menemukan pusara jauh di dalam piramida. Setelah dilakukan penggalian selama 24 jam, mereka menemukan ruang penguburan dengan ukuran 4x3 meter.

Di dalam kamar itu ditemukan tulang belulang tiga orang: pria setengah baya, seorang bayi sekitar satu tahun dan seorang pria muda. Tim arkeolog juga menemukan ruangan terpisah dan di dalamnya ditemukan kerangka seorang perempuan.

Kerangka pria setengah baya dilengkapi dengan berbagai hiasan. Mulutnya ditutup dengan kulit dan giginya dihiasi dengan jade.

Dia juga mengenakan gelang tangan, gelang kaki, kalung dan topeng kematian.

Berdasarkan jumlah perhiasan yang dikenakan, para peneliti mengatakan pria itu memiliki kedudukan penting dan dua kerangka di sampingnya kemungkinan ditempatkan untuk menemani pria berkedudukan tinggi.

Mereka mengatakan dua pria kemungkinan dikorbankan. Menurut peneliti, berdasarkan posisi tulang belulang, bayi ditempatkan di pusara secara hati-hati sedangkan mayat pria muda kemungkinan dilempar ke liang kubur.

Tim arkeologi yang terdiri dari Bruce Bachand, Emiliano Gallaga dan Lynneth Lowe mengatakan penemuan ini menunjukkan bahwa manusia telah ada di Chiapas setidaknya 1200 sebelum Masehi.



Posted by : kurtdickblog.blogspot.com
Read more »

Rabu, 12 Januari 2011

KERANGKA MANUSIA HOBBIT DIKETEMUKAN DIKEPULAUAN FLORES, INDONESIA

 
 
 
Belum lama ini di Indonesia di temukan tulang belulang berusia 18.000 tahun milik sejenis manusia dengan tinggi badan 3 kaki di pulau Flores, Indonesia. Manusia hobbit, begitu ilmuan dan media menyebutnya. memiliki ciri ciri yang lebih kecil pada manusia pada umumnya. penemuan Manusia hobbit ini menimbulkan perselisihan diantara ilmuwa. perselisihan tersebut adalah adanya para pakar lain yang mendukung pandangan para ilmuwan Indonesia yang berkeberatan atas dikemukakannya H. floresiensis sebagai suatu spesies tersendiri yang terpisah dari Homo sapiens. Yang terkemuka dari sederetan ilmuwan tersebut adalah ilmuwan Australia Dr. Maciej Henneberg dan Dr. Alan Thorne, dan para peneliti dari Field Museum Chicago di Amerika. 
 
Sejumlah sanggahan baru, sebagaimana yang dilontarkan oleh para ilmuwan Indonesia, menegaskan bahwa Manusia Flores mungkin telah menderita penyakit syaraf yang dikenal sebagai microcephaly (kelainan berupa kepala yang berukuran kecil). Microcephaly sekunder memiliki banyak sekali penyebab, mulai dari infeksi virus selama kehamilan hingga luka atau kekurangan gizi ketika baru lahir. Spesimen-spesimen tersebut ditemukan di sebuah gua di suatu pulau. Siapakah yang bisa mengatakan bahwa pulau itu belum pernah dilanda wabah virus 18.000 tahun lalu yang menyebabkan berjangkitnya kelainan tersebut? Atau mungkin penghuni [pulau itu] telah terkena wabah itu di tempat lain di gugusan kepulauan Indonesia, dan telah diusir ke Flores karena penampakan mereka yang aneh.
 
Atau mungkin saja bahwa mereka yang mengidap microcephaly sekunder dapat bertahan hidup dan bahkan beranak pinak: kelainan itu tidak selalu harus dihubungkan dengan kecerdasan yang rendah.  Sebenarnya, [tingkat kecerdasan] bukan dikarenakan ukuran otak yang kecil saja: penentu terpenting adalah jumlah bagian [otak yang berwarna] abu-abu. Karena bagian ini tidak terawetkan pada sisa-sisa peninggalan fosil, kita tidak memiliki gambaran apakah para "hobbit" tersebut cerdas, bodoh atau biasa saja. Apa yang jelas adalah bahwa para palaeontolog terlalu bernafsu mendasarkan klaim besar pada bukti yang sudah dipastikan sangat kurang. Ini adalah kecenderungan kuat yang tidak begitu membantu mereka di masa lalu.

Pengkajian lain oleh Henneberg yang mengungkap hasil mengejutkan tentang Manusia Flores adalah perhitungannya tentang tulang lengan depan (radius) yang ditemukan di dalam sebuah gua. Dari panjang tulangnya, yang ditetapkan sebagai 210 mm (8,3 inci), Henneberg menghitung bahwa pemiliknya bertinggi tubuh antara 151 dan 162 cm (4,9 - 5,3 kaki). Angka ini agak lebih besar daripada 1 meter (3 kaki) yang diduga merupakan ukuran tinggi Manusia Flores, dan masih dalam batas yang dianggap normal untuk manusia zaman sekarang. Henneberg mengumumkan kesimpulan yang ia capai sebagai hasil dari penelitian ini: 
"Hingga tambahan tulang-tulang lain dari 'spesies baru' dugaan ini diketemukan, saya akan tetap menyatakan bahwa suatu kondisi yang sudah sangat dikenal yang diakibatkan oleh penyakitlah yang menjadi penyebab timbulnya penampakan khusus dari rangka tersebut."


Posted by : kurtdickblog.blogspot.com
Read more »

PENEMUAN JEJAK KAKI MANUSIA MODERN BERUSIA 3,6 JUTA TAHUN DITANZANIA




Jejak-jejak Laetoli berasal dari manusia masa kini, namun mereka hidup jutaan tahun silam. Nyatanya, sejumlah temuan lain merunut asal mula manusia modern hingga 1,7 juta tahun yang lalu. Salah satu dari temuan terpenting adalah jejak-jejak kaki yang ditemukan di Laetoli, Tanzania oleh Mary Leakey pada tahun 1977. Jejak-jejak kaki ini ditemukan pada lapisan yang menurut perhitungan berusia 3,6 juta tahun. 

Yang lebih penting lagi, jejak-jejak kaki ini tidak berbeda dari jejak kaki yang ditinggalkan manusia modern (manusia jaman sekarang). Jejak-jejak kaki yang ditemukan Mary Leakey lalu dipelajari beberapa ahli paleoantropologi seperti Don Johanson dan Tim White, Hasilnya sama. 

White menulis: Tidak pelak lagi Jejak-jejak itu serupa dengan jejak kaki manusia modern. Jika satu jejak itu ditinggalkan di pasir pantai California sekarang, dan seorang anak berusia empat tahun ditanyai tentangnya, ia akan langsung menjawab bahwa seseorang telah berjalan di sana. Ia tidak akan dapat membedakannya dengan seratus jejak kaki lain di pantai, begitu pun Anda. Setelah meneliti jejak-jejak itu, Louis Robbins dari Universitas North California mengulas demikian: Lengkungannya agak tinggi — manusia yang lebih kecil berlengkungan lebih tinggi daripada saya— dan jempol kakinya besar dan sejajar dengan telunjuk kakinya.

Jari-jari menekan tanah seperti jari-jari kaki manusia. Anda tidak akan melihat ini pada hewan. Pengujian-pengujian bentuk morfologis jejak tetap menunjukkan lagi bahwa harus diterima bahwa itu jejak-jejak manusia, lebih jauh lagi, manusia modern yang ada hari ini (Homo sapiens). Russell Tuttle yang memelajari hal ini menulis: Seorang Homo sapiens kecil bertelanjang kaki mungkin telah membuatnya.

Dari semua ciri morfologi yang teramati, kaki orang yang membuat jejak tidak berbeda dengan kaki manusia modern.Penelitian tak berpihak tentang jejak-jejak kaki itu mengungkapkan pemilik sebenarnya. Dalam kenyataan, jejak-jejak itu terdiri atas 20 jejak membatu seorang manusia modern berusia 10 tahun dan 27 jejak seorang yang lebih muda. Mereka jelas-jelas manusia modern seperti kita.

Situasi ini menjadikan jejak kaki Laetoli sebagai bahan perbincangan selama bertahun-tahun. Para pakar paleoantropologi evolusionis berupaya keras memikirkan sebuah penjelasan karena mereka sulit menerima kenyataan bahwa manusia modern telah berjalan di muka Bumi 3,6 juta tahun silam. Pada tahun 1990-an, “penjelasan” ini mulai terbentuk. Evolusionis memutuskan bahwa jejak kaki ini tentunya ditinggalkan oleh Australopithecus, sebab menurut teori mereka, mustahil spesies homo ada 3,6 juta tahun silam. Akan tetapi, dalam karangannya di tahun 1990, Russell H. Tuttle menulis: Singkatnya, jejak kaki berusia 3,5 juta tahun di situs G Laetoli mirip jejak manusia modern yang biasa bertelanjang kaki. Tidak ada ciri-ciri yang menunjukkan bahwa hominid Laetoli berkemampuan bipedal yang kurang dari kita. Kalau saja jejak pada situs G ini tidak diketahui setua itu, kami akan langsung menyimpulkan bahwa jejak itu dibuat oleh anggota genus Homo ... Dalam hal ini, kita harus mengesampingkan anggapan lemah bahwa jejak Laetoli dibuat oleh jenis Lucy, yaitu Australopithecus aferensis.Dengan kata lain, jejak-jejak berumur 3,6 juta tahun ini tidak mungkin milik Australopithecus. Satu-satunya alasan mengapa jejak-jejak ini dianggap berasal darinya adalah karena berada pada lapisan vulkanik berumur 3,6 juta tahun. Jejak itu dianggap milik Australopithecus dengan asumsi bahwa manusia tidak mungkin ada pada zaman setua itu.

Tafsiran-tafsiran atas jejak Laetoli menunjukkan kepada kita suatu kenyataan yang sangat penting. Evolusionis  mendukung  teorinya  tidak dengan menimbang  temuan-temuan  ilmiah,  malah  justru mengabaikannya. Di sini kita mendapati sebuah teori yang dibela membabi-buta, dan semua temuan yang meragukan teori itu diabaikan atau dipelintir demi mendukung teori. Singkatnya,  teori  evolusi  bukan  ilmu  pengetahuan,  tetapi  dogma  yang  dijaga  tetap hidup  dengan mengabaikan ilmu pengetahuan.


Posted by : kurtdickblog.blogspot.com
Read more »

WARGA MOJOKERTO TEMUKAN CANDI DI AREA PERSAWAHAN




Mojokerto, - Warga Dusun Tegal Sari, Desa Puri, Kecamatan Puri, Kabupaten Mojokerto, Jawa Timur, menemukan tumpukan batu bata merah yang diduga sebagai candi di areal persawahan setempat.

Suprapto, pemilik sawah, Minggu (2/1/2011), mengatakan, tumpukan batu itu diduga sebagai candi karena besar batu bata yang melebihi batu bata normal saat ini.

"Tumpukan batu ini bentuknya menyerupai dasar candi dan hal ini juga didukung dengan setiap kali saya mau menanam padi selalu menemukan jenis batu bata seperti ini," katanya.

Mojokerto memang diketahui sebagai ibukota Kerajaan Majapahit yang semakin merosot ketika kekuatan baru yang mengibarkan bendera Islam mulai membesar di Demak, Jawa Tengah.

Menurtu Suprapto, atas penemuan ini pihaknya sudah melaporkan kepada pihak aparat desa serta kepolisian setempat supaya tidak terjadi pengrusakan di areal penemuan tersebut.

"Kami juga telah melaporkan kepada pihak Balai Pelestarian Peninggalan Purbakala (BP3) Jawa Timur di Kecamatan Trowulan untuk menindaklanjuti penemuan ini," katanya.

Dengan disaksikan oleh aparat desa dan juga petugas kepolisian setempat akhirnya pemilik sawah melakukan penggalian dengan menggunakan alat cangkul.

"Saya hanya ingin membuktikan di sini memang ada candi yang terpendam dan dengan disaksikan pihak terkait, saya berani melakukan penggalian di lokasi ini," katanya.

Sementara itu, petugas Polres Mojokerto langsung memasang garis polisi di lokasi penemuan tumpukan batu bata merah yang diduga sebagai candi. Namun, meski sudah dipasang garis polisi, warga sekitar yang antusias terhadap penggalian tersebut masih memenuhi lokasi.

Bahkan, warga menerobos garis polisi yang telah dipasang sebelumnya. Akibatnya, lokasi penggalian di sawah seluas 20x20 meter tersebut penuh dengan warga yang melihat proses penggalian.

Kapolsek Puri, AKP I Komang Wirta, mengatakan, pihaknya memasang garis polisi agar aktifitas penggalian tidak terganggu dengan kerumunan warga yang melihat.

"Pemasangan garis polisi ini bertujuan supaya para penggali bisa fokus melakukan aktivitasnya tanpa harus merasa diganggu oleh warga yang melihat," katanya.

Saat ini petugas juga masih disiagakan di lokasi penggalian untuk melakukan penelitian lebih lanjut terkait dengan penemuan tumpukan batu bata yang diduga sebagai candi ini. "Saat ini kami masih menyiagakan anggota untuk melakukan penjagaan di sekitar lokasi supaya warga tidak mendekat di lokasi penggalian," katanya.

Menurutnya, tidak menutup kemungkinan penggalian tersebut akan dilakukan sampai dengan malam hari supaya hasil dari penggalian itu bisa segera diketahui.

"Intinya kami siap untuk melakukan penjagaan di lokasi penggalian baik itu siang maupun malam karena itu sudah menjadi tugas kami," katanya.

BP3 Trowulan Belum Terima Laporan
Menanggapi temuan itu, Kepala Balai Pelestarian Peninggalan Purbakala (BP3) Trowulan, Jawa Timur, Aris Sofyan, mengatakan, saat ini pihaknya masih belum menerima laporan terkait dengan penemuan tersebut.

"Kami masih belum menerima laporan tersebut dan rencananya kami akan mengirimkan orang untuk melakukan pemantauan dan juga penelitian termasuk di dalamnya melakukan pendokumentasian di lokasi tersebut," katanya.

Ia mengemukakan, aktivitas warga untuk melakukan penggalian di lokasi tumpukan batu bata merah yang diduga candi tersebut seharusnya tidak diperbolehkan.

"Karena metode penggaliannya berbeda dan nantinya hasilnya juga akan berbeda dengan kondisi awal sebuah bangunan candi," katanya.

Hal tersebut disebabkan karena alat yang digunakan warga masyarakat yang digunakan untuk penggalian juga berbeda.

"Proses penggalian yang dilakukan warga bisa merusak stuktur bangunan candi karena proses evakuasi yang seharusnya dilakukan tidak menggunakan cangkul tapi menggunakan cetok, kuas dan alat lunak lainnya," katanya.

Ia mengatakan, rencananya awal pekan besok BP3 akan langsung mengambil alih proses penggalian yang dilakukan tersebut.

"Jika benar itu bangunan candi, kami tidak ingin struktur bangunan tersebut rusak karena alat yang digunakan adalah cangkul dan alat lain yang tidak mendukung," katanya.

Sebelumnya, warga Dusun Tegal Sari, Desa Puri, Kecamatan Puri menemukan bangunan yang diduga candi dengan luas 20x20 meter.

Petugas Kepolisian juga telah memasang garis polisi di lokasi penemuan tumpukan batu bata merah yang diduga sebagai candi.

Namun, meski sudah dipasang garis polisi, warga sekitar yang antusias terhadap penggalian tersebut masih memenuhi lokasi.

Bahkan, warga menerobos garis polisi yang telah dipasang sebelumnya dan berakibat lokasi penggalian di sawah seluas 20x20 meter tersebut penuh dengan warga yang melihat proses penggalian.

Kapolsek Puri, AKP I Komang Wirta, mengatakan, pihaknya memasang garis polisi agar aktifitas penggalian tidak terganggu dengan kerumunan warga yang melihat.

"Pemasangan garis polisi ini bertujuan supaya para penggali bisa fokus melakukan aktifitasnya tanpa harus merasa diganggu oleh warga yang melihat," katanya.


Sumber: antarajatim.com; Foto: detik.com
Direplay Kembali Oleh : kurtdickblog.blogspot.com
Read more »

Selasa, 11 Januari 2011

PEDANG PUSAKA BERUSIA 2000 TAHUN DITEMUKAN DI CHINA

 
 
 
 
Museum Provinsi Hubei, China, beberapa waktu lalu memamerkan pedang Goujian si penguasa Yue. "Pedang Nomer Wahid di Dunia" itu telah berusia 2.000 tahun lebih tapi masih tetap tajam dan tidak berkarat, namun yang dipertanyakan ialah bagaimana ia bisa muncul di dalam makam bangsawan Chu?
 
Sebenarnya pedang sebagai hadiah perang Negara Chu ataukah berupa bawaan mas kawin selir penguasa Chu Shaowang? Semuanya masih serba misterius.

Menurut berita Hong.net, pada suatu senja Desember 1965, makam nomor 1 – Chu  Gunung  Jianglingwang – Provinsi Hubei sedang tegang-tegangnya dilakukan penggalian. Tatkala pekerja arkeologi dengan sangat hati-hati membuka peti mati si jenazah, secara tak terduga di sebelah kiri kerangka jenazah terlihat sebilah pedang perunggu yang masih terselip di dalam sarung pedang kayu yang dilapisi cat tersebut.

Pada saat si petugas mencabut pedang itu dari sarungnya, diiringi seberkas sinar dingin yang agak meyilaukan mata, semua orang di tempat itu terperangah. Seorang petugas lainnya begitu kurang hati-hati jarinya luka tergores dan darah mengalir seolah tak mau berhenti. Seorang petugas lainnya lagi mencoba ketajamannya dengan 16 lapis kertas, begitu menggunakan sedikit tenaga, tumpukan kertas itu semuanya robek terpotong.


Bagaimana pedang Goujian si penguasa Yue mendarat di dalam makam Chu, misteri ini hingga sekarang belum bisa diungkap. Perkiraan Wan Qianwen: “Negara Chu dengan Wu maupun Yue pernah berperang beberapa kali. Ada kemungkinan Raja Chu kala itu menghadiahkan pedang tersebut kepada salah seorang pejabat tinggi kepercayaannya.”

Sementara itu sudut pandang lain beranggapan bahwa dari rol bambu (red.: zaman sebelum penemuan kertas menggunakan rol bambu sebagai media/buku tulis) yang tergali dari makam itu menunjukkan, sang jenazah ada kemungkinan bangsawan besar semasa zaman penguasa Chu Huaiwang yang bernama Shao Hua jadi kemungkinan pedang Goujian beralih ke Negara Chu melalui item hadiah pernikahan.

Sesuai catatan kitab sejarah kuno, hubungan kedua negara Chu dan Yue semenjak masa Yun Chang (penguasa Yue) sudah mulai akrab, mereka pernah bersekutu pada suatu periode, Chu Zhaowang si penguasa Chu pernah mempersunting putri Goujian sebagai selirnya dan telah melahirkan Chu Huiwang.

Oleh karena itu pedang perunggu canggih itu ada kemungkinan dijadikan sebagai salah satu item hadiah pernikahan putrinya dan dengan demikian telah berpindah tangan ke Negara Chu, kemudian penguasa Chu menghadiahkannya kepada Shao Hua. Setelah Shao Hua wafat, pedang tersebut ikut terkubur di dalam makamnya.

Pedang perunggu kemilau tersebut memiliki ukuran: panjang 55,7 cm, lebar 4,6 cm, dan panjang gagangnya  8,4 cm, ujung gagangnya berbentuk lempengan bulat yang pada lingkaran dalamnya terdapat 11 lajur lingkaran dengan pahatan halus, halusnya sampai-sampai ada yang menyerupai sehelai rambut.

Sword Grid (bagian pelindung tangan antara pegangan dan pedang), sedikit menonjol keluar yang pada sisi depannya terpasang butiran-butiran kristal biru terbingkai batu turkis, meski di dalam kegelapan memancarkan sinar adem yang misterius. Pada tubuh pedang terdapat tekstur hitam berbentuk berlian yang luar biasa indah.

Yang paling menggembirakan para pakar adalah pada bagian pelindung tangan terdapat grafir 2 baris aksara bergaya Niaozhuan. Jumlah aksara itu ada 8 buah, pakar di lokasi situs kala itu hanya bisa mengungkap 6 aksara diantaranya yakni: “Yue Wang Zhi Zuo Yong Jian  = pedang bikinan sendiri milik raja Yue”.

Wakil kepala bagian umum museum Provinsi Hubei, Wan Quanwen mengatakan, “Dua aksara di tengah yang menunjukkan nama orang, berdasarkan kajian berulang-ulang dari para ahli peneliti bahasa China kuno, baru terungkap itulah salah satu tokoh paling legendaris di dalam sejarah China yakni: Goujian (sang penguasa Yue)”.

Pedang Raja Yue Goujian telah melalui lorong waktu selama 2.000 tahun lebih, tapi sama sekali tidak menunjukkan tanda-tanda berkarat. Apakah penyebabnya ia tidak sampai berkarat? Para pakar beranggapan, hal itu terutama dimungkinkan oleh situasi dan kondisi pedang tersebut tersimpan.
Wan Qianwen menjelaskan, kandungan tembaga pedang Goujian sekitar 80-83%, kandungan timah 16-17%, selain itu juga terdapat sedikit kadar timbal dan besi. Tembaga sebagai bagian utama dari pedang perunggu itu adalah semacam logam yang non-aktif, pada situasi kondisi sehari-hari memang tidak mudah berkarat.

Kedua, kondisi luar situs pedang Goujian: Makam terbenam di bawah tanah sedalam beberapa meter, satu liang diisi 2 peti mati,  dinding di sekeliling liang makam menggunakan semacam lumpur putih dengan kualitas halus padat, yang dinamakan dunia arkeologi sebagai plaster lumpur pasta putih, bagian bawahnya menggunakan lumpur pasta putih yang sudah dicuci dan disaring secara manual, daya rekatnya sangat baik.

Ditambah lagi bagian atas liang makam diisi dengan tanah yang padat, faktor-faktor itulah membuat makam tersebut nyaris menjadi sebuah ruang yang kedap udara, begitu banyak lapisan kedap yang pada dasarnya telah menyekat ruang makam dengan atmosfer dari luar ruangan.

Penelitian iptek moderen menyatakan: di bawah kondisi total tersekat dari oksigen, meski di dalam cairan air biasa atau air asam, besi dan baja tidak akan berkarat.

Selain itu, makam Chu no.1 di Gunung Wang terletak di atas tanggul kering dari Sungai Zhang di dekat Kota Jinzhou moderen, level air bawah tanah agak tinggi, ruang makam dalam jangka waktu lama pernah pula terendam oleh air, sifat asam air bawah tanah tidak besar, pada dasarnya cenderung netral, terbukti dengan sejumlah besar peralatan/artefak kayu dengan dilapisi cat yang indah keadaan penyimpanannya agak baik. Sesudah terendam air bawah tanah, udara di dalam ruang makam juga menyusut banyak.

Mengenai pedang Goujian apakah masih sama tajamnya seperti pada saat digali keluar, Wan Qianwen menyatakan: “sesudah itu tidak pernah lagi dilakukan test semacam itu.”  (The Epoch Times/whs)


Posted by : kurtdickblog.blogspot.com

Read more »

Jumat, 17 Desember 2010

ARKEOLOG CHINA TEMUKAN POT PERUNGGU BERISI SUP BERUSIA 2400 TAHUN



 
Tim arkeolog berhasil menemukan pot perunggu berisi sisa sup, berusia lebih dari 2.400 tahun.
Pot ini ditemukan di sebuah makam, dari zaman Negara Perang, yang dimulai kira-kira tahun 475 SM.
Makamnya sendiri ditemukan dalam usaha penggalian perluasan lapangan udara, didekat  kota  Xi An.

Wadah perunggu ini berkaki tiga, dengan tinggi kurang lebih 20 cm, berdiameter sekitar 25 cm, dan masih tersegel. Pengaruh oksidasi perunggu membuat cairan dan tulang didalamnya menjadi hijau.

Arkeolog berusaha mencari tahu jenis hewan dari tulang itu, dan memastikan apakah cairan tersebut benar-benar sup.
Jika memang sup, ini akan menjadi penemuan pertama di China.

[Liu Daiyun, Arkeolog, Institut Arkeologi di Propinsi Shaanxi]:
“Ini merupakan penemuan pertama kali di propinsi Shaanxi. Tidak ada laporan penemuan arkeologi serupa di negara ini sebelumnya.”

Makam ini dipercaya adalah rumah dari anggota tuan tanah setempat, atau prajurit militer berpangkat rendah, pada periode Negara Perang.
Dalam makam yang sama, juga ditemukan pot perunggu yang berisi cairan tidak berbau, yang diyakini merupakan arak kuno.

Xi An merupakan salah satu kota tertua di China. Ia merupakan ibukota negara selama 1.100 tahun, dan bersejarah lebih dari 3.000 tahun.
Read more »

SEPATU KULIT TERTUA DIDUNIA




Sebuah sepatu kulit sempurna berumur  1.000 tahun lebih tua dari Piramida Agung Giza di Mesir dan 400 tahun lebih tua dari Stonehenge di Inggris, telah ditemukan di sebuah gua di Armenia. 


Sepatu berumur 5.500 tahun, merupakan sepatu kulit tertua di dunia, ditemukan oleh sebuah tim arkeolog internasional dan mepubllikasiskan temuan mereka  di jurnal ilmiah online PLoS ONE pada 9 Juni lalu. 

Sepatu kulit Sapi  umur sepatu masa tahun 3.500 SM (periode Chalcolithic) dan dalam kondisi sempurna. Terbuat dari sepotong kulit dan dibentuk agar sesuai dengan kaki si pemakai. Berisi rumput, meskipun para arkeolog itu tidak yakin apakah ini untuk menjaga agar kaki tetap hangat atau untuk menjaga bentuk sepatu, mungkin sebagai awal dari sepatu kayu modern "Tidak diketahui apakah sepatu itu milik seorang pria atau wanita, "kata penulis utama penelitian, Dr Ron Pinhasi, University College Cork, Cork, sebagai ukuran Irlandia terkecil (ukuran Eropa 37; US ukuran 7 untuk perempuan), sepatu pria juga bisa dipasang dari jaman tersebut. " Gua ini terletak di Provinsi Dzor Vayotz Armenia, di Armenia Iran, perbatasan Nackhichevanian dan Turki,  dikenal  daerah arkeolog karena visibilitas dari jalan raya di bawah ini. 
\
Kondisi stabil, sejuk dan kering dalam gua menghasilkan pengawetan sempurna dari berbagai benda yang ditemukan, termasuk kontainer besar, banyak yang berisi gandum matang, barley, aprikot dan tumbuhan lainnya. Dengan mendapat bantuan  lantai gua tertutup oleh lapisan tebal kotoran domba yang berfungsi sebagai pelapis  yang sempurna atas objek, menjaga tetap awet selama ribuan tahun! 
\
 "Kami pikir awalnya bahwa sepatu dan benda-benda lainnya sekitar 600-700 tahun karena mereka dalam kondisi sempurna seperti itu," kata Dr Pinhasi. "Ketika materi diuji oleh dua laboratorium radiokarbon di Oxford, Inggris, dan di California Amerika Serikat, kami menyadari bahwa sepatu itu lebih tua beberapa ratus tahun dari sepatu yang dikenakan oleh Ötzi, manusia es." 

Tiga contoh yang diambil untuk menentukan umur sesungguhnya dari sepatu dan ketiga tes menghasilkan hasil yang sama. Para arkeolog memotong dua strip kecil kulit dari sepatu dan dikirim satu strip ke unit Oxford  radiokarbon Akselerator di Universitas Oxford dan lainnya ke University California- Fasilitas Irvine Akselerator Spektrometri Massa. Sepotong rumput dari sepatu juga dikirim ke Oxford  untuk menentukan umur, baik sepatu dan rumput menampilkan umur  yang sama. 

Sepatu itu ditemukan oleh mahasiswa PhD Armenia, Ms. Diana Zardaryan, dari Institut Arkeologi, Armenia, di sebuah lubang juga termasuk panci rusak dan tanduk domba. "Saya kagum menemukan  bahkan tali sepatu masih utuh," tutur dia. "Kami tidak bisa percaya penemuan itu," kata Dr Gregory Areshian, Cotsen Institut Arkeologi di UCLA, AS, asisten direktur yang berada di lokasi dengan Mr. Boris Gasparyan,asisten direktur, Institut Arkeologi, Armenia ketika sepatu itu ditemukan. "Tanah telah disegel dan simpanan artefak arkeologis dan artefak tetap segar dan kering, seperti mereka dimasukkan ke dalam kaleng," katanya. 

Alas kaki tertua di dunia, untuk saat ini, adalah sandal terbuat dari bahan tanaman, yang ditemukan di sebuah gua di Gua Penelitian Arnold di Missouri di Amerika Serikat. sandal kontemporer lainnya ditemukan di Gua Warrior, Gurun Yudea, Israel, tetapi tidak secara langsung diketahui umurnya, sehingga usia mereka didasarkan pada berbagai artefak terkait lain yang ditemukan di dalam gua. 
\
Menariknya, sepatu ini sangat mirip dengan 'pampooties' dipakai di Kepulauan Aran (di Barat Irlandia) sampai dengan tahun 1950-an. "Bahkan, ada banyak kesamaan antara teknik manufaktur dan gaya sepatu ini  yang ditemukan di Eropa periode kemudian, menunjukkan bahwa sepatu jenis ini dipakai selama ribuan tahun di suatu wilayah besar dan beragam lingkungan," kata Dr Pinhasi. 

"Kami belum mengetahui apa fungsi sepatu atau benda lainnya di gua atau apa tujuan gua itu," kata Dr Pinhasi. "Kita tahu bahwa ada kuburan anak-anak di bagian belakang gua tapi sangat sedikit yang diketahui tentang masanya kita tidak bisa mengatakan dengan pasti mengapa semua benda-benda yang berbeda ditemukan bersama-sama." Tim ini akan terus menggali lebih banyak lorong-lorong gua. (Epochtimes/art)
Read more »

Demis Roussos - Goodbye My Love Goodbye .mp3
Found at bee mp3 search engine

 
Powered by Blogger